Magetan – Nama Ki Ageng Mageti cukup masyhur di kalangan masyarakat Magetan. Ia dipercaya sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah awal berdirinya Kabupaten Magetan.
Meski demikian, jejak sejarah mengenai Ki Ageng Mageti belum banyak diketahui secara pasti. Sejumlah kisah sejarah dan tradisi lisan menyebutkan bahwa Ki Mageti merupakan tokoh besar yang hidup sekitar abad ke-17 dan kemungkinan memiliki kedudukan sebagai pejabat Kesultanan Mataram.
Dalam kisah yang berkembang, Ki Ageng Mageti disebut sebagai tokoh yang memerintahkan Lurah Ki Buyut Suro, yang kemudian dikenal dengan gelar Ki Ageng Getas, untuk membabat hutan di wilayah timur Gunung Lawu.
Wilayah yang kemudian menjadi cikal bakal Magetan tersebut menjadi tempat pertemuan sejumlah tokoh penting dari Mataram. Di antaranya adalah Basah Gandakusuma, seorang pejabat Mataram yang kemudian terusir dari Mataram karena dianggap mendukung pemberontakan Trunojoyo (1646-1677).
Setelah diusir, Basah Gandakusuma kemudian pergi ke Semarang untuk menemui kakeknya, Basah Suryadiningrat. Sang kakek selanjutnya mengajak Basah Gandakusuma menuju wilayah timur Gunung Lawu yang sebelumnya telah dibuka oleh Ki Buyut Suro.
Setibanya di wilayah tersebut, Basah Suryadiningrat dan Basah Gandakusuma bertemu dengan Ki Buyut Suro. Mereka kemudian menghadap Ki Ageng Mageti untuk memohon sebidang tanah yang dapat dijadikan tempat tinggal.
Sebelum memberikan tanah, Ki Ageng Mageti konon mengajukan sejumlah pertanyaan kepada Basah Suryadiningrat. Pertanyaan-pertanyaan tersebut diyakini berkaitan dengan kode atau tanda tertentu yang berhubungan dengan lingkungan Kesultanan Mataram.
Setelah Basah Suryadiningrat berhasil menjawab pertanyaan tersebut, Ki Ageng Mageti yakin bahwa tamunya memang merupakan orang-orang yang memiliki kedudukan di Mataram. Ia kemudian memberikan sebidang tanah di sebelah utara Sungai Gandong yang membelah wilayah tersebut.
Untuk mengenang jasa Ki Ageng Mageti, Basah Suryadiningrat menamai wilayah itu Mageti, kemudian Magetian dan dalam perkembangannya selanjutnya menjadi Magetan.
Basah Suryadiningrat kemudian mengangkat Basah Gandakusuma sebagai bupati di wilayah tersebut dengan gelar "Yosonegoro." Sebagai tanda pelantikan, Basah Suryadiningrat menyerahkan keris pusaka miliknya kepada Basah Gandakusuma.
Pelantikan Bupati Yosonegoro tersebut diyakini berlangsung pada 12 Oktober 1675, yang kemudian diperingati sebagai hari lahir Kabupaten Magetan.
Sayang lokasi makam Ki Ageng Mageti dan Nyi Ageng Mageti terletak di belakang pertokoan di pinggir sungai Gandong, sehingga banyak yang tidak mengetahuinya.
Ziarah Makam Ki Mageti, Tokoh Pendiri Magetan
Nama Ki Mageti cukup masyhur di Magetan, namun kisahnya belum banyak terungkap.

GALERI
Foto Tambahan

