Kabar TEMBORO | Media Online 19 September 2026
Pendidikan

Dua Generasi, Satu Napas: Perjuangan Ayah dan Anak Mengangkat Isu Pendidikan

Dua orang penulis beda generasi, Ayah dan Anak, menyuarakan pentingnya pendidikan bagi masyarakat melalui dua buah buku.

Dua Generasi, Satu Napas:  Perjuangan Ayah dan Anak Mengangkat Isu Pendidikan
TEMBORO — Buku itu adalah Dompet Ayah, Sepatu Ibu karya J.S. Khairen dan Perempuan yang Mendahului Zaman karya Khairul Jasmi. Menariknya, kedua penulis tersebut bukan sekadar sama-sama berbicara tentang pendidikan. Mereka adalah ayah dan anak yang sama-sama menekuni dunia kepenulisan.

J.S. Khairen, yang lahir di Padang pada 23 Januari 1991, merupakan nama pena dari Jombang Santani Khairen. Ia adalah seorang novelis muda Indonesia. Karyanya mencakup berbagai genre seperti petualangan, drama, kesetiaan, politik, horor, dan fantasi. Ia mulai menulis pada tahun 2013 dan dikenal publik dengan novel "Kami (Bukan) Sarjana Kertas" yang menjadi novel terlaris di Gramedia.

Sedangkan Khairul Jasmi, lahir di Padang pada 15 Februari 1963, merupakan wartawan, sastrawan, dan penulis asal Sumatera Barat. Ia pernah dipercaya menjadi Pemimpin Redaksi Harian Singgalang, salah satu surat kabar penting di Sumatera Barat.

Ayah dan anak ini memilih jalan yang sama: menyampaikan gagasan dan kegelisahan melalui tulisan.

Dua Kisah tentang Pendidikan

Dalam Dompet Ayah, Sepatu Ibu, J.S. Khairen mengisahkan perjuangan Asrul dan Alzena dalam menempuh pendidikan. Keterbatasan ekonomi tidak menjadi alasan untuk berhenti mengejar cita-cita.

Perjalanan mereka menuju pendidikan tinggi penuh dengan tantangan. Ada persoalan ekonomi, pengorbanan keluarga, serta berbagai kesulitan yang harus dilewati sebelum akhirnya meraih pendidikan yang diimpikan.

Kisah tersebut menjadi gambaran bahwa pendidikan sering kali tidak datang dengan mudah. Di balik sebuah gelar, ada perjuangan panjang yang mungkin tidak terlihat.

Sementara itu, Khairul Jasmi melalui Perempuan yang Mendahului Zaman mengangkat kisah Rahmah El Yunusiyyah, tokoh pendidikan perempuan dari Minangkabau.

Rahmah berjuang membuka kesempatan pendidikan bagi perempuan pada masa ketika akses perempuan terhadap pendidikan masih sangat terbatas. Pada 1923, ia mendirikan Diniyah Puteri di Padang Panjang, yang kemudian berkembang menjadi salah satu lembaga pendidikan perempuan yang berpengaruh.

Jika J.S. Khairen bercerita tentang generasi muda yang berjuang mendapatkan pendidikan di tengah keterbatasan ekonomi, Khairul Jasmi menghadirkan perjuangan seorang perempuan yang berusaha membuka pintu pendidikan bagi kaumnya.

Dari Ayah kepada Anak

Di sinilah dua buku tersebut menjadi semakin menarik. Khairul Jasmi menulis tentang seorang perempuan yang berjuang agar kaumnya memperoleh kesempatan belajar. Beberapa dekade kemudian, anaknya, J.S. Khairen, menulis tentang anak-anak muda yang berjuang melewati keterbatasan untuk memperoleh pendidikan tinggi.

Seolah-olah ada sebuah benang merah yang menghubungkan karya ayah dan anak tersebut.
Sang ayah berbicara tentang membuka pintu pendidikan. Sang anak berbicara tentang berjuang melewati pintu pendidikan.

Keduanya bertemu pada satu keyakinan: pendidikan dapat mengubah kehidupan manusia.

Warisan yang Tidak Selalu Berupa Harta

Hubungan Khairul Jasmi dan J.S. Khairen juga menunjukkan bahwa warisan orang tua kepada anak tidak selalu berupa harta benda.

Ada warisan berupa kecintaan terhadap ilmu, kegemaran membaca, keberanian menulis, dan kepedulian terhadap persoalan kehidupan.

Bakat menulis mungkin menjadi salah satu warisan yang paling terlihat. Namun yang lebih penting adalah bagaimana tulisan tersebut digunakan untuk menyampaikan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat.

Melalui Perempuan yang Mendahului Zaman, Khairul Jasmi menghidupkan kembali perjuangan Rahmah El Yunusiyyah agar generasi sekarang tidak melupakan jasa seorang perempuan yang membuka jalan pendidikan bagi kaumnya.

Melalui Dompet Ayah, Sepatu Ibu, J.S. Khairen menghadirkan kisah perjuangan generasi muda agar pembaca memahami bahwa pendidikan yang mereka nikmati hari ini membutuhkan pengorbanan.
Dua buku tersebut akhirnya bukan sekadar karya seorang ayah dan anak.

Keduanya seperti dua suara dari dua generasi yang menyampaikan pesan yang sama: jangan mudah menyerah dalam mencari ilmu. Sebab, pendidikan bukan hanya tentang memperoleh ijazah atau gelar. Pendidikan adalah jalan panjang untuk mengubah kehidupan, membuka wawasan, dan menjadikan manusia lebih bermanfaat bagi sesamanya.